Kontak Kami :


PIN BBM : D0ADB773
0853 1700 6007 (Telkomsel)
0856 0800 2007 (Indosat)
0812 8538 5007 (WA)
Email : [email protected]

Kuch2hotahu Manfaatkan Kekuatan Teknologi Informasi

Kuch2hotahu

Manfaatkan Kekuatan Teknologi Informasi

Baru dua tahun berdiri gerai kuch2hotahu sudah 400 gerai dan menjadi market leader di kategori bisnisnya. Apa rahasianya?

 

waralaba tahu kuch2hotahu

Sejak didirikan di penghujung tahun 2011, outlet Kuh2HoTahu terus tumbuh bak cendauan di musim hujan. Bermula dari tiga outlet di kudus dan satu outlet di Jepara dan Jogja kini telah mencapai 400 outlet yang tersebagai di berbagai kota besar di Indonesia.

Dan menjadi market leader di beberapa wilayah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kudus, Jepara, Pati dan Demak.

Kuch2hotahu melalui kreatifitas sang pemilik, dikembangkan dengan memanfaatkan kekuatan teknologi informasi (TI) hingga menjadi sangat popular di dunia maya.

Setidaknya ada tiga instrument yang digunakan Iltidas facebook, twitter dan search Engine Optimization(SEO). Dengan SEO para pencari bisnis per-tahu-an akan dengan mudah menemukan kuch2hotahu di rangking pertama saat googling.

Maka tak heran momentum perkembangan bisnis kuch2hotahu di mulai dari daerah luar jawa nun jauh disana. Samarinda dan Balikpapan menjadi mitra master pertama yang eksis dibelantika bisnis per-tahu-an Indonesia.

Kemudian menyusul daerah lainnya seperti Aceh, Sorong, Makassar, Manado, Pangkep, Medan, Lahat, Pekanbaru, Bengkulu, hingga Palangkaraya.

Factor lain yang menjadikan Kuch2HoTahu dinobatkan sebagai Fastest Growing Franchise & Franchise Market Leader 2012 yaitu, kekuatan produk dengan varian rasa yang unik dan nikmat yang diminati mayoritas masyarakat.

Menurut Iltidas, Owner Kuch2HoTahu, Tim R & D Kuch2HoTahu terus mengembangkan ragam varian rasa dimulai dari tujuh varian rasa hingga kini 20 varian dan 30 stock masih menunggu rilis.

“Hal itu tidak luput dari beragam usulan yang masuk melalui facebook dan twitter dari konsumen Kuch2HoTahu,” terang Iltidas,

Factor berikutnya, lanjut Iltidas, soal nama Kuch2HoTahu yang unik sehingga memberikan sensasi penasaran bagi para konsumen dan mitra. Maka jangan heran bila baru mendengar namanya saja ada mitra yang bergabung menjadi mitra.

“Ada satu mitra yang ditawari orang tuanya untuk berbisnis selalu menolak, namun begitu dia mendengar nama Kuch2HoTahu ia langsung tertarik bergabung dan kini telah memiliki tujuh outlet,” kisah Iltidas menunjukkan keunikan brand-nya.

Inovasi

Tak kehabisan ide, selain menggunakan jejaring social di dunia maya. Iltidas baru-baru ini tengah merancang satu game berbasis android dan program aplikasi pencarian untuk memudahkan bagi konsumen dan mitra menemukan outlet Kuch2HoTahu yang terbesar diberbagai wilayah di Indonesia.

“Masih dengan memanfaatkan kekuatan TI, sebagai upaya branding kami menciptakan satu game dari icon kami, Kapten kuch, yang bisa didapat secara gratis di internet. Dan kami juga tengah mengembangkan satu aplikasi peta yang belum kami kasih nama, untuk memudahkan konsumen mencari outlet kami, itu semua terinsipirasi dari konsumen loyal kami,” terang Idas.

Kuch2HoTahu ditawarkan dengan nilai investasi Rp 8.5 juta untuk wilayah Jawa, dan luar Jawa dibandrol dengan Rp 9.5 juta. Sementara master mitra Rp 75 juta untuk Jawa dan Luar Jawa Rp 85 juta.

Omset rata-rata bergantung pada lokasi. Untuk omset tertinggi bisa mencapai Rp 2 juta perhari dan pada akhir pekab Rp 4 juta, sangat bergantung pada lokasi, lokasi dan lokasi.

Sumber dari Majalah Franchise April 2013

Tags : > > > > >

Franchise & Kriteria Memilih Franchise

Franchise & Kriteria Memilih Franchise

 

lokasi Universitas Muhammadyah Sumatera Utara (UMSU)Selama terjun kedalam bidang pendidikan anak yang sekaligus merupakan bisnis franchise selama hampir 20 tahun ini, saya melihat bisnis franchise juga memiliki tantangan psikologis baik franchisor maupun calon terwaralaba atau fanchisee. Pasalnya sudah menjadi wacana umum, hampir semua orang membeli franchise dengan motivasi meraih keuntungan yang jelas dengan jaminan reputasi sebuah merek bisnis dan kalau bisa, sekaligus menggali passionate terdalam dalam diri mereka. Kecenderungan yang sempat saya tangkap dalam pengamatan saya ketika pertama kali memberi waralaba ada franchisor yang mengiming-imingi keuntungan yang besar bagi para franchisee. Alhasil, secara psikologis, franchise sudah merasa aman berinvestasi di bisnis waralaba dan hal ini merupakan pola pikir yang keliru dalam menggeluti bisnis franchise.

Anggapan klasik yang mengatakan bahwa tingkat keberhasilan usaha waralaba mencapai 95% sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Informasi mutakhir mengungkapkan, 95% bisnis waralaba atau franchise yang berganti pemilik berkali-kali, dan seandainya pemilik sebelumnya merugi atau bangkrut sekalipun kegagalanya tidak terekam. Sebuah penelitian dilakukan Arthur Andersen dan dipublikasikan pada tahun 1993, hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan usaha franchise di tahun pertama hanya mencapai angka 76,5%. Association’s forum on franchising menyebutkan sekitar sepertiga dari usaha waralaba memang berhasil dengan baik, namun sepertiga lainnya mengalami masalah serius dalam hal keuangan alias tidak berhasil dan sepertiga lainnya beroperasi dengan kinerja pas-pasan, ini berarti tingkat keberhasilannya hanya mencapai 67%.

Meskipun demikian, usaha waralaba masih tetap menjanjikan. Berapapun angka tingkat keberhasilan dalam suatu penelitian terhadap usaha waralaba. Tapi sesungguhnya angka itu merupakan angka rata-rata. Jadi, mungkin saja ada usaha waralaba yang tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 95% dan juga ini berarti ada juga yang tingkat keberhasilannya kurang dari 50%. Dari fakta di atas bisa di petik kesimpulan, untuk lebih hati-hati bagi investor yang ingin membeli bisnis waralaba. Begitu pula bagi franchisor yang ingin memperluas jaringan waralabanya.  

Jika dirinci factor yang membuat keberhasilan usaha waralaba bisa sangat banyak sekali. Misalnya, dari segi model bisnis pihak pewaralaba, FT Consulting Singapura menetapkan empat kriteria yang membuat bisnis waralaba bisa berhasil. Pertama, repicable atau dapat dipublikasikan dengan baik, bergantung pada system, bukan pada ketrampilan individual.

Kedua, controllable, yaitu kualitasnya dapat dikendalikan atau dijaga. Ketiga, sustainable atau mampu bertahan ditengah perubahan atau perkembangan persaingan di lapangan. Bukan suatu tren sesaat. Keempat, marketable atau produknya dapat dipasarkan alias ada sejumlah pelanggan potensial, serta memiliki merek yang kuat. Kelima, profitable, yang berarti memiliki tingkat keuntungan yang dapat dibagi kepada pihak-pihak yang terlibat, yaitu franchisor dan franchisee.

Jangan sampai yang menikmati profit hanya franchisor, atau hanya franchisee-nya saja. Keberhasilan juga, sangat bergantung kepada organisasi franchisor. Di sini dibutuhkan tim manajemen yang kompeten, system yang professional,infrastruktur yang dapat diandalkan, serta paradigma yang benar tentang franchise.

Selanjutnya, yang harus diperhatikan franchisor agar usahanya diterima oleh investor (franchise) adalah, bagi investor sebetulnya harus layak dari kacamata investasi. Artinya memiliki peluang memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan ditaruh di deposito, karena produk investasi ini tidak ada resikonya. Atau untuk yang sama-sama beresiko, minimal tingkat pengambilan modalnya harus setara dengan rata-rata tingkat pengembalian reksadana misalnya.

Di franchise, keberhasilan juga sangat ditentukan oleh dukungan franchisor dalam pengelolaan merek (brand management). Hal ini terkait erat dengan kegiatan public relations dan advertising untuk mendukung upaya pemasaran produknya. Bukan sekedar kegiatan periklanan dn public relations untuk memasarkan waralabanya atau menjaring franchise semata.

Tapi yang harus selalu diingat, namanya franchise tidak menjamin kesuksesan. Franchise ada juga yang gagal. 50% kegagalan suatu bisnis waralaba dikarenakan factor perawalabanya, 25% lainnya karena factor pasar dan kompetisi, dan 25% lagi karena factor terwaralaba.

Contoh factor kegagalan dari pewaralaba misalnya, pewaralaba over promise dan under deliver. Artinya menjanjikan hal yang muluk-muluk tapi dalam prakteknya dukungannya amat kurang. Contoh lainnya adalah kurang menyeleksi kandidat terwaralabanya, tidak kompeten dalam melakukan survey lokasi, kurang focus pada bisnis yang diwaralabakan alias punya banyak bisnis lain, kurang terbuka terhadap gagasan atau ide-ide dari terwaralaba, tidak melakukan perbaikan dan inovasi, srategi pemasarannya lemah, dan pertumbuhan yang terlalu cepat yang melampaui kemampuan pewaralaba dalam menjaga standar kualitasnya.

Kemudian factor kegagalan dari pasar dan kompetisi misalnya, makin banyak pemain sehingga kue yang jumlahnya tetap sama diperebutkan oleh makin banyak pihak, perubahan tren, menurunnya daya beli masyarakat, naiknya harga bahan baku yang diikuti dengan sulitnya mendongkrak harga jual sehingga margin keuntungan makin tipis, dan sebagainya.

Selanjutnya factor kegagalan dari terwaralaba misalnya sulit untuk tunduk pada system yang sudah dibuat oleh waralaba, superkreatif alias terlalu banyak ide, tidak bisa mengelola pegawai dan menjaga kualitas layanan sesuai standar yang ditetapkan perawalaba.

Menyeleksi Calon Franchisee Kriteria apa yang digunakan franchisor untuk menyeleksi franchise ?

Kriteria apa yang digunakan oleh franchisor untuk menyeleksi franchisee secara timbal balik bisa digunakan oleh franchisee untuk menilai siapa sebenarnya franchisor tersebut. Ada franchisor yang mensyaratkan adanya persamaan visi dan misi antara kedua belah pihak. Meski kelihatan sepele dan abstrak namun persoalan ini tidak bisa disepelekan. Sudah banyak bukti tentang franchise yang kandas ditengah jalan dan berantakan

“Komitmen benar-benar menjadi prioritas pertama bagi franchisor dalam memilih franchise. Diluar itu, calon investor juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola bisnis yang akan digelutinya.”

gara-gara perbedaan visi dan misi antara franchisor dan frinchisee padahal secara bisnis usaha tersebut sangatlah prospektif. Yang perlu diwaspadai lagi adalah franchisor yang tidak memilki kriteria terhadap calon franchisee. Biasanya tipe franchisor ini hanya menghendaki franchise fee dari franchiseenya.

Jika anda telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada franchisor dan memberikan penilaian yang tepat atas jawaban-jawaban dari franchisor maka besar kemungkinan Anda bisa mendapatkan franchise yang terbaik menurut Anda dan sekaligus terhindar dari “jebakan-jebakan” yang dipasang oleh franchisor yang tidak bertanggung jawab.

Untuk mendapatkan franchisee yang berkualitas dalam menjalin hubungan kerja sama waralaba dalam jangka panjang, sudah menjadi keharusan bagi Anda selaku franchisor untuk menerapkan seleksi yang ketat terhadap para calon franchise Anda. Ada beberapa hal pokok yang sebaiknya Anda perhatikan dalam menyeleksi franchisee Anda yaitu:

1.      Integritas calon franchise

2.      Komitmen dan konsistensi yang sama dari calon franchise

3.      Track record usaha calon franchise

4.      Visi dan misi yang sama dari calon franchise

5.      Rencana bisnis calon franchise yang mencakuap antara lain:

a.       Kemampuan financial calon franchisee

b.      Lokasi yang ditawarkan oleh calon franchisee.

 

 Tahap-tahap umum yang biasanya dilakukan oleh para franchisor dalam menyeleksi para calon franchisee adalah:

1.      Pengajuan permohonan untuk menjadi franchisee

2.      Pemenuhan syarat-syarat yang diajukan oleh franchisor

3.      Seleksi persyaratan awal

4.      Interview/tatap muka dengan franchisor

5.      Penandatanganan perjanjian waralaba

6.      Orentasi dan Pelatihan

Dalam usaha franchise kami, Tumble Tots dan Leaps and Bounds Indonesia, intregitas dan komitmen karyawan, komitmen franchisee juga menjadi prioritas utama, Untuk mengetahui kekuatan komitmen mereka, dilakukan due diligent saat menyeleksi calon franchisee. Bila ingin menjadi franchisee kami calon franchise harus bisa menyediakan tempat berupa ruko atau rumah di sebuah lokasi yang strategis dan mempunyai lahan parkir yang bisa menampung sekitar 10 mobil. Rata-rata di daerah perumahan mudah dijangkau oleh para orang tua.

Tempat yang disediakan para calon franchisee pun harus melalui studi kelayakan dari pihak kami. Minimal, lokasi dan luas tokonya harus sesuai dengan jenis pendidikan yang ingin dijalankan. Saat ini, di tiap cabang kami rata-rata mempunyai anggota sekitar 200-500 murid. Untuk itu, luas ruko yang cocok agar bisa membuka satu sekolah Tumble Tots atau Leaps and Bounds kira-kira 2 bangunan ruko.

Komitmen benar-benar menjadi prioritas pertama bagi lembaga pendidikan kami dalam memilih franchise. Di luar itu, calon investor juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola bisnis. Di Tumble Tots dan Leaps and Bound, franchise sekaligus bertindak sebagai Direktur Pengelola.

Oleh karena itu Frachisor sangatlah penting untuk mengenal lebih jauh calon Frinchisee-nya. Jadi, selain harus mengisi formulir aplikasi, calon franchisee juga diwawancarai secara khusus. Kami akan menanyakan banyak hal, terutama tentang alasan mereka mengambil waralaba atau belum dan jenis usaha apa yang selama ini dijalankan.

Terkadang, kendati sudah menjalankan proses seleksi lumayan ketat, dalam perjalanannya terkadang kami masih menemukan franchisee yang nakal. Mereka mengaku kesulitan membayar fee royalty, sehingga pembayaran jadi tidak tepat waktu. Saat menemukan masalah seperti ini, kami akan mencoba mengkomunikasikannya dengan mengajak bicara baik-baik tidak dengan secara seperti waralaba yang lain yang terkadang langsung cut loss jika telat dibayar, kami mencoba mencari tahu ke mereka dulu, apa yang menyebabkan mereka terlambat membayar dan apa kendalanya. Biasanya, kami memberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya sambil mencari jalan keluar terbaik dalam menaikkan jumlah atau omset cabang tersebut.

Karena itu, untuk mengurangi terjadinya masalah tersebut di kemudian hari, seharusnya para Franchisor dapat memberi berbagai bimbingan ke para Frinchisee-nya. Dalam berpromosi, misalnya, pihak franchisee dapat bertukar pikiran dengan Frinchisor.

Mungkin dibandingkan waralaba lain, kami termasuk yang kurang agresif. Sejak system ini diterapkan pada tahun 1993, cabang yang sebelumnya hanya 1 tumbuh menjadi 61. Dalam kurun yang sama, waralaba lain, mungkin, bisa berkembang hingga ratusan cabang. Dalam setahun penambahan cabang baru Tumble tots dan Leaps and Bounds melalui system waralaba hanya 6-7. Hal ini dimaksudkan agar kami bisa mengontrol dengan baik semua cabang waralaba.

Untuk menyeragamkan kurikulum, Tumble Tots dan Leaps and Bounds Indoneaia memiliki Training Departement yang bertugas mengatur agar metode, modul dan kurikulum diterapkan sesuai standar yang berlaku sama di seluruh cabang di seluruh Indonesia. Sementara untuk penetapan biaya sekolah, kami memberi rentang biaya yang bisa diterapkan para frinchisee di setiap cabangnya. Perbedaan tarif biasanya disebabkan lokasi, daya beli,dan fasilitas yang ditawarkan masing-masing cabang.

Kendati para frinchisee kami memiliki ruang gerak yang lebih luas dibanding waralaba lain, ada beberapa hal yang merupakan peraturan standar. Diantaranya, system kepegawaian, gaji, dan jenjang kepengangkatan SDM di tiap cabang, yang harus sesuai dengan modul atau standar pusat. Dengan begitu, waralaba kami bisa dilihat fully business format, yang tidak membiarkan investornya diam begitu saja.

Di samping itu, agar bisnis waralabanya tertata dengan baik, juga rutin dilakukan controller atau Manager Meeting di setiap bulannya. Terbukti, Tumble Tots telah terpilih sebagai waralaba terbaik. Kami menempati posisi pertama dan memperoleh penghargaan The Best Master Franchisee Award 2012 oleh majalah Info Franchise.

Dengan penghargaan itu, kami pun berharap Tumble Tots bisa menjadi lebih baik, dari segi bisnis ataupun perkembangan waralabanya.

Sumber dari Majalah FRANCHISE Mei 2013

Tags : > > > > > > >

Cara Membuka Gerai di Mall

Cara Membuka Gerai di Mall   gerai di mallMal, selain sebagai tempat shooping atau belanja, Mal juga bisa memiliki fungsi lain, tempat tujuan untuk santai, hang out, bertemu kawan atau apa saja. Alhasil, Mal menjadi crowd atau pertemuan banyak orang dengan berbagai tujuan. Bagi pelaku usaha crowd menjadi hal yang sangat penting untuk menjaring customer disana ada peluang untuk melakukan transaksi. Tak heran bila Mal menjadi tempat yang sangat penting untuk memperkenalkan suatu produk ke tengah masyarakat. Selain traffic yang tinggi, pengunjung yang berganti-ganti menjadi hal penting untuk memperluas awarenees suatu merek. Lalu lanjut, apa keuntungan membuka gerai di Mal. Terlebih bagi produk baru yang belum dikenal luas. Yang jelas, ada beberapa keuntungan yang didapat dengan membuka gerai di Mal. Pertama, Brand akan mudah dikenal secara luas. Ada banyak pasang mata yang akan melihat brand tersebut. Dibandingkan tempat lain Mal menjadi tempat yang sangat representative untuk memperkenalkan khususnya suatu produk atau brand baru. Dijelaskan Tari, pemilihan tempatpun untuk di Mal sangat dianjurkan di tempat-tempat strategis, khususnya untuk brand baru. Main entrance atau pintu masuk bagian utama Mal sangat cocok bagi Brand baru, biar bagaimana pun lokasi sangat penting, untuk dan menentukan produk itu cepat dikenal. Pada akhirnya akan menjadi referensi customer ke customer lainnya. Lalu, bagaimana memilih lokasi di mall? Dalam memilih lokasi ada hal lain yang perlu diperhatikan pula. Pertama, sesuaikan lokasi dengan produk apa yang dijual, dimana letak competitor dia, lalu disudut mana dia harus ambil posisi. Tak ada artinya produk yang bagus, Island bagus, konsepnya bagus, tapi dia diletakkan ditempat yang tidak terlihat, walaupun didalam Mal tidak ada artinya. Selanjutnya, logo brand juga harus menarik mata yang memandang,mengundang orang yang melihat untuk masuk dan mencoba. Membuka gerai di Mal, memang sangat menarik, menjadi idaman karena prestise suatu merek akan didapat. Namun, yang terkadang jadi problem adalah sewa tempat yang cukup mahal. Maka, pelaku bisnis harus mampu memperhatikan biaya sewa dengan pendapatan gerai. Kecuali, memang tujuan awal dari membuka gerai di Mal tersebut sekedar untuk meningkatkan awarenees brand., maka biaya yang keluar menjadi biaya dari biaya marketing. Asal tahu saja, selain biaya sewa yang mahal, persaingan pun boleh dibilang cukup ketat, selain itu juga ada biaya service yang mahal dan terbatasnya jam buka. Maka jika mau masuk Mal perlu persiapan yang matang. Maka perlu strategi, selain untuk mensiasati agar bisa diterima disuatu Mal. Karena tidak semua Mal bisa memberi ruang untuk suatu brand. Kemudian untuk bisa profit, bersaing dan bertahan. Sebuah brand harus menampilkan desain yang bagus, produk yang mampu bersaing. Bagaimana proses masuk ke sebuah Mal? Pertama biasanya, pihak mal melihat company profile dari brand itu, lalu mereka mereview apakah brand ini akan masuk. Adakah competitor sejenis yang telah masuk. Sudah banyakkah produk sejenis di Mal itu, atau apakah mereka akan mengkelaskan produk yang sejenis itu sehingga yang baru masuk bisa diterima. Jika sudah cocok antara pengelola Mall dan penyewa atau brand, maka biasanya penyewa harus bayar membayar DP yang besarnya antara 10-30% tergantung masing-masing Mal. Sisanya di bayarkan mulai dari 36-54 kali, tergantung kekuatan nego dari calon tenan. Untuk kontrak biasanya 5 tahun. Tekadang bagi brand baru akan dikenakan biaya yang lebih mahal. Beda dengan brand yang lama yang sudah besar dan dikenal, atau brand baru yang berasal dari group brand besar yang telah ada. Untuk menyiasati hal tersebut, suatu brand harus memiliki satu keunikan. Keunikan itu bisa dari berbagai hal baik itu produk, desain, brand dan seterus. Selanjutnya terpulang kepada konsep dari Mal itu sendiri. Sekedar informasi, di Jakarta ada tiga ragam Mal. Pertama Mal untuk kelas Up, Middle dan Low. Mal kelas Up untuk Jakarta ada di Jakarta Pusat, selatan dan utara. Dan untuk Middle ada di jakarta Timur, dan Mal di daerah (meski ada juga di kelas Up). Untuk yang Up kemungkinan besar hanya produk-produk yang branded yang masuk kesana.. Ciri lain dari Mal dikatakan kelas A, B dan C bisa dilihat dari entry tenantnya. Kalau banyak branded product yang masuk maka itu kelas A. Dan kelas Middle bisa dilihat bila disana ada carrefur, Hipemart dan Matahari itu bisa kelas B. Dan kelas bawah ada Ramayana masuk dan biasanya terletak di daerah dan wilayah pinggiran. Soal harga sewa variasi. Jika di kelas bawah, permeter mencapai Rp100-150 ribu permeter persegi dan itu belum termasuk service charge tapi ada juga yang include. Untuk Mal kelas Middle, seperti semanggi itu harga sewanya mencapai Rp 300-400 ribu permeter persegi. Dan untuk yang kelas Up, itu sudah menacapai di atas Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu permeter persegi. Itu semua dibayarnya perbulan. Sumber dari Majalah FRANCHIE Juni-juli 2011