Kontak Kami :


PIN BBM : D0ADB773
0853 1700 6007 (Telkomsel)
0856 0800 2007 (Indosat)
0812 8538 5007 (WA)
Email : [email protected]

Franchise & Kriteria Memilih Franchise

Franchise & Kriteria Memilih Franchise

 

lokasi Universitas Muhammadyah Sumatera Utara (UMSU)Selama terjun kedalam bidang pendidikan anak yang sekaligus merupakan bisnis franchise selama hampir 20 tahun ini, saya melihat bisnis franchise juga memiliki tantangan psikologis baik franchisor maupun calon terwaralaba atau fanchisee. Pasalnya sudah menjadi wacana umum, hampir semua orang membeli franchise dengan motivasi meraih keuntungan yang jelas dengan jaminan reputasi sebuah merek bisnis dan kalau bisa, sekaligus menggali passionate terdalam dalam diri mereka. Kecenderungan yang sempat saya tangkap dalam pengamatan saya ketika pertama kali memberi waralaba ada franchisor yang mengiming-imingi keuntungan yang besar bagi para franchisee. Alhasil, secara psikologis, franchise sudah merasa aman berinvestasi di bisnis waralaba dan hal ini merupakan pola pikir yang keliru dalam menggeluti bisnis franchise.

Anggapan klasik yang mengatakan bahwa tingkat keberhasilan usaha waralaba mencapai 95% sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Informasi mutakhir mengungkapkan, 95% bisnis waralaba atau franchise yang berganti pemilik berkali-kali, dan seandainya pemilik sebelumnya merugi atau bangkrut sekalipun kegagalanya tidak terekam. Sebuah penelitian dilakukan Arthur Andersen dan dipublikasikan pada tahun 1993, hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan usaha franchise di tahun pertama hanya mencapai angka 76,5%. Association’s forum on franchising menyebutkan sekitar sepertiga dari usaha waralaba memang berhasil dengan baik, namun sepertiga lainnya mengalami masalah serius dalam hal keuangan alias tidak berhasil dan sepertiga lainnya beroperasi dengan kinerja pas-pasan, ini berarti tingkat keberhasilannya hanya mencapai 67%.

Meskipun demikian, usaha waralaba masih tetap menjanjikan. Berapapun angka tingkat keberhasilan dalam suatu penelitian terhadap usaha waralaba. Tapi sesungguhnya angka itu merupakan angka rata-rata. Jadi, mungkin saja ada usaha waralaba yang tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 95% dan juga ini berarti ada juga yang tingkat keberhasilannya kurang dari 50%. Dari fakta di atas bisa di petik kesimpulan, untuk lebih hati-hati bagi investor yang ingin membeli bisnis waralaba. Begitu pula bagi franchisor yang ingin memperluas jaringan waralabanya.  

Jika dirinci factor yang membuat keberhasilan usaha waralaba bisa sangat banyak sekali. Misalnya, dari segi model bisnis pihak pewaralaba, FT Consulting Singapura menetapkan empat kriteria yang membuat bisnis waralaba bisa berhasil. Pertama, repicable atau dapat dipublikasikan dengan baik, bergantung pada system, bukan pada ketrampilan individual.

Kedua, controllable, yaitu kualitasnya dapat dikendalikan atau dijaga. Ketiga, sustainable atau mampu bertahan ditengah perubahan atau perkembangan persaingan di lapangan. Bukan suatu tren sesaat. Keempat, marketable atau produknya dapat dipasarkan alias ada sejumlah pelanggan potensial, serta memiliki merek yang kuat. Kelima, profitable, yang berarti memiliki tingkat keuntungan yang dapat dibagi kepada pihak-pihak yang terlibat, yaitu franchisor dan franchisee.

Jangan sampai yang menikmati profit hanya franchisor, atau hanya franchisee-nya saja. Keberhasilan juga, sangat bergantung kepada organisasi franchisor. Di sini dibutuhkan tim manajemen yang kompeten, system yang professional,infrastruktur yang dapat diandalkan, serta paradigma yang benar tentang franchise.

Selanjutnya, yang harus diperhatikan franchisor agar usahanya diterima oleh investor (franchise) adalah, bagi investor sebetulnya harus layak dari kacamata investasi. Artinya memiliki peluang memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan ditaruh di deposito, karena produk investasi ini tidak ada resikonya. Atau untuk yang sama-sama beresiko, minimal tingkat pengambilan modalnya harus setara dengan rata-rata tingkat pengembalian reksadana misalnya.

Di franchise, keberhasilan juga sangat ditentukan oleh dukungan franchisor dalam pengelolaan merek (brand management). Hal ini terkait erat dengan kegiatan public relations dan advertising untuk mendukung upaya pemasaran produknya. Bukan sekedar kegiatan periklanan dn public relations untuk memasarkan waralabanya atau menjaring franchise semata.

Tapi yang harus selalu diingat, namanya franchise tidak menjamin kesuksesan. Franchise ada juga yang gagal. 50% kegagalan suatu bisnis waralaba dikarenakan factor perawalabanya, 25% lainnya karena factor pasar dan kompetisi, dan 25% lagi karena factor terwaralaba.

Contoh factor kegagalan dari pewaralaba misalnya, pewaralaba over promise dan under deliver. Artinya menjanjikan hal yang muluk-muluk tapi dalam prakteknya dukungannya amat kurang. Contoh lainnya adalah kurang menyeleksi kandidat terwaralabanya, tidak kompeten dalam melakukan survey lokasi, kurang focus pada bisnis yang diwaralabakan alias punya banyak bisnis lain, kurang terbuka terhadap gagasan atau ide-ide dari terwaralaba, tidak melakukan perbaikan dan inovasi, srategi pemasarannya lemah, dan pertumbuhan yang terlalu cepat yang melampaui kemampuan pewaralaba dalam menjaga standar kualitasnya.

Kemudian factor kegagalan dari pasar dan kompetisi misalnya, makin banyak pemain sehingga kue yang jumlahnya tetap sama diperebutkan oleh makin banyak pihak, perubahan tren, menurunnya daya beli masyarakat, naiknya harga bahan baku yang diikuti dengan sulitnya mendongkrak harga jual sehingga margin keuntungan makin tipis, dan sebagainya.

Selanjutnya factor kegagalan dari terwaralaba misalnya sulit untuk tunduk pada system yang sudah dibuat oleh waralaba, superkreatif alias terlalu banyak ide, tidak bisa mengelola pegawai dan menjaga kualitas layanan sesuai standar yang ditetapkan perawalaba.

Menyeleksi Calon Franchisee Kriteria apa yang digunakan franchisor untuk menyeleksi franchise ?

Kriteria apa yang digunakan oleh franchisor untuk menyeleksi franchisee secara timbal balik bisa digunakan oleh franchisee untuk menilai siapa sebenarnya franchisor tersebut. Ada franchisor yang mensyaratkan adanya persamaan visi dan misi antara kedua belah pihak. Meski kelihatan sepele dan abstrak namun persoalan ini tidak bisa disepelekan. Sudah banyak bukti tentang franchise yang kandas ditengah jalan dan berantakan

“Komitmen benar-benar menjadi prioritas pertama bagi franchisor dalam memilih franchise. Diluar itu, calon investor juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola bisnis yang akan digelutinya.”

gara-gara perbedaan visi dan misi antara franchisor dan frinchisee padahal secara bisnis usaha tersebut sangatlah prospektif. Yang perlu diwaspadai lagi adalah franchisor yang tidak memilki kriteria terhadap calon franchisee. Biasanya tipe franchisor ini hanya menghendaki franchise fee dari franchiseenya.

Jika anda telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada franchisor dan memberikan penilaian yang tepat atas jawaban-jawaban dari franchisor maka besar kemungkinan Anda bisa mendapatkan franchise yang terbaik menurut Anda dan sekaligus terhindar dari “jebakan-jebakan” yang dipasang oleh franchisor yang tidak bertanggung jawab.

Untuk mendapatkan franchisee yang berkualitas dalam menjalin hubungan kerja sama waralaba dalam jangka panjang, sudah menjadi keharusan bagi Anda selaku franchisor untuk menerapkan seleksi yang ketat terhadap para calon franchise Anda. Ada beberapa hal pokok yang sebaiknya Anda perhatikan dalam menyeleksi franchisee Anda yaitu:

1.      Integritas calon franchise

2.      Komitmen dan konsistensi yang sama dari calon franchise

3.      Track record usaha calon franchise

4.      Visi dan misi yang sama dari calon franchise

5.      Rencana bisnis calon franchise yang mencakuap antara lain:

a.       Kemampuan financial calon franchisee

b.      Lokasi yang ditawarkan oleh calon franchisee.

 

 Tahap-tahap umum yang biasanya dilakukan oleh para franchisor dalam menyeleksi para calon franchisee adalah:

1.      Pengajuan permohonan untuk menjadi franchisee

2.      Pemenuhan syarat-syarat yang diajukan oleh franchisor

3.      Seleksi persyaratan awal

4.      Interview/tatap muka dengan franchisor

5.      Penandatanganan perjanjian waralaba

6.      Orentasi dan Pelatihan

Dalam usaha franchise kami, Tumble Tots dan Leaps and Bounds Indonesia, intregitas dan komitmen karyawan, komitmen franchisee juga menjadi prioritas utama, Untuk mengetahui kekuatan komitmen mereka, dilakukan due diligent saat menyeleksi calon franchisee. Bila ingin menjadi franchisee kami calon franchise harus bisa menyediakan tempat berupa ruko atau rumah di sebuah lokasi yang strategis dan mempunyai lahan parkir yang bisa menampung sekitar 10 mobil. Rata-rata di daerah perumahan mudah dijangkau oleh para orang tua.

Tempat yang disediakan para calon franchisee pun harus melalui studi kelayakan dari pihak kami. Minimal, lokasi dan luas tokonya harus sesuai dengan jenis pendidikan yang ingin dijalankan. Saat ini, di tiap cabang kami rata-rata mempunyai anggota sekitar 200-500 murid. Untuk itu, luas ruko yang cocok agar bisa membuka satu sekolah Tumble Tots atau Leaps and Bounds kira-kira 2 bangunan ruko.

Komitmen benar-benar menjadi prioritas pertama bagi lembaga pendidikan kami dalam memilih franchise. Di luar itu, calon investor juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola bisnis. Di Tumble Tots dan Leaps and Bound, franchise sekaligus bertindak sebagai Direktur Pengelola.

Oleh karena itu Frachisor sangatlah penting untuk mengenal lebih jauh calon Frinchisee-nya. Jadi, selain harus mengisi formulir aplikasi, calon franchisee juga diwawancarai secara khusus. Kami akan menanyakan banyak hal, terutama tentang alasan mereka mengambil waralaba atau belum dan jenis usaha apa yang selama ini dijalankan.

Terkadang, kendati sudah menjalankan proses seleksi lumayan ketat, dalam perjalanannya terkadang kami masih menemukan franchisee yang nakal. Mereka mengaku kesulitan membayar fee royalty, sehingga pembayaran jadi tidak tepat waktu. Saat menemukan masalah seperti ini, kami akan mencoba mengkomunikasikannya dengan mengajak bicara baik-baik tidak dengan secara seperti waralaba yang lain yang terkadang langsung cut loss jika telat dibayar, kami mencoba mencari tahu ke mereka dulu, apa yang menyebabkan mereka terlambat membayar dan apa kendalanya. Biasanya, kami memberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya sambil mencari jalan keluar terbaik dalam menaikkan jumlah atau omset cabang tersebut.

Karena itu, untuk mengurangi terjadinya masalah tersebut di kemudian hari, seharusnya para Franchisor dapat memberi berbagai bimbingan ke para Frinchisee-nya. Dalam berpromosi, misalnya, pihak franchisee dapat bertukar pikiran dengan Frinchisor.

Mungkin dibandingkan waralaba lain, kami termasuk yang kurang agresif. Sejak system ini diterapkan pada tahun 1993, cabang yang sebelumnya hanya 1 tumbuh menjadi 61. Dalam kurun yang sama, waralaba lain, mungkin, bisa berkembang hingga ratusan cabang. Dalam setahun penambahan cabang baru Tumble tots dan Leaps and Bounds melalui system waralaba hanya 6-7. Hal ini dimaksudkan agar kami bisa mengontrol dengan baik semua cabang waralaba.

Untuk menyeragamkan kurikulum, Tumble Tots dan Leaps and Bounds Indoneaia memiliki Training Departement yang bertugas mengatur agar metode, modul dan kurikulum diterapkan sesuai standar yang berlaku sama di seluruh cabang di seluruh Indonesia. Sementara untuk penetapan biaya sekolah, kami memberi rentang biaya yang bisa diterapkan para frinchisee di setiap cabangnya. Perbedaan tarif biasanya disebabkan lokasi, daya beli,dan fasilitas yang ditawarkan masing-masing cabang.

Kendati para frinchisee kami memiliki ruang gerak yang lebih luas dibanding waralaba lain, ada beberapa hal yang merupakan peraturan standar. Diantaranya, system kepegawaian, gaji, dan jenjang kepengangkatan SDM di tiap cabang, yang harus sesuai dengan modul atau standar pusat. Dengan begitu, waralaba kami bisa dilihat fully business format, yang tidak membiarkan investornya diam begitu saja.

Di samping itu, agar bisnis waralabanya tertata dengan baik, juga rutin dilakukan controller atau Manager Meeting di setiap bulannya. Terbukti, Tumble Tots telah terpilih sebagai waralaba terbaik. Kami menempati posisi pertama dan memperoleh penghargaan The Best Master Franchisee Award 2012 oleh majalah Info Franchise.

Dengan penghargaan itu, kami pun berharap Tumble Tots bisa menjadi lebih baik, dari segi bisnis ataupun perkembangan waralabanya.

Sumber dari Majalah FRANCHISE Mei 2013

Tags : > > > > > > >